Blogroll

Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2018

Budidaya Ikan Lele Dengan Sistem Biofloc

Budidaya ikan lele dengan sistem biofloc
Apa menariknya budidaya ikan lele dengan sistem biofloc? Ikan lele sudah sangat popular dikalangan masyarakat karena rasa dagingnya yang lembut dan gurih. Pengolahan ikan lele yang paling popular adalah dengan digoreng sebagai menu pecel lele. Dikenal sebagai salah satu ikan yang cukup tangguh pada berbagai kondisi membuat budidaya ikan lele cukup mudah dan minim resiko. Harga ikan lele pun cukup terjangkau dipasaran sehingga menarik untuk dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Tentunya hal ini memberi dampak positif bagi para peternak budidaya ikan lele. Dengan luasnya target pasar dan jumlah populasi manusia, maka permintaan produksi ikan lele pun semakin meningkat. Oleh sebab itu budidaya ikan lele akan tetap menggiurkan.

Tahun
Jumlah produksi ikan lele (/Ton)
2004
51.271
2005
69.386
2006
77.272
2007
91.735
2008
108.200

Sebelum beranjak pada teknik budidaya ikan lele dengan sistem biofloc, mari kita mengenal terlebih dahulu jenis-jenis ikan lele yang sering dibudidayakan dengan ekosistem habitatnya di alam. Ikan lele merupakan jenis ikan air tawar dan seringnya ditemukan pada arus perairan tenang-sedang seperti sungai, sawah, waduk, rawa dan telaga. Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap.

Jenis ikan lele yang paling banyak dibudidayakan adalah jenis lele dumbo dan lele sangkuriang:

  • Lele Dumbo

Ikan lele dumbo bisa dibedakan dengan lele lokal dari warnanya yang hitam kehijauan. Lele dumbo juga akan bereaksi ketika terkejut atau stres, kulitnya berubah menjadi bercak-bercak hitam atau putih dan kemudian akan berangsur-angsur kembali ke warna awal. Lele dumbo memiliki patil seperti lele lokal, namun patilnya tidak mengeluarkan racun. Lele dumbo juga cocok dipelihara di kolam tanah karena tidak mempunyai kebiasaan membuat lubang. Secara umum, lele dumbo bisa tumbuh lebih cepat, lebih besar dan lebih tahan terhadap penyakit dibanding lele lokal. Namun dari sisi rasa, daging lele dumbo lebih lebih lembek. Sebagian orang menganggap daging ikan lele lokal lebih enak rasanya dibanding lele dumbo.

  • Lele Sangkuriang

Ikan lele sangkuriang dihasilkan dari indukan betina lele dumbo generasi ke-2 atau F2 dan lele dumbo jantan F6. Induk betina merupakan koleksi BBPAT, keturunan F2 dari lele dumbo yang pertama kali didatangkan pada tahun 1985. Sedangkan indukan jantan merupakan keturunan F6 dari keturunan induk betina F2 itu. Penamaan Sangkuriang diambil dari cerita rakyat Jawa Barat tentang seorang anak yang bernama Sangkuriang yang mengawini ibunya sendiri. Sama seperti yang dilakukan BBPAT yang mengawinkan lele jantan F6 dengan induknya sendiri lele betina F2.

Dari hasil perkawinan ini ternyata didapatkan sifat-sifat unggul seperti kemampuan bertelur hingga 40.000-60.000 butir per sekali pemijahan. Jauh berbeda dengan kemampuan bertelur lele lokal yang berkisar 1.000-4.000 butir. Lele Sangkuriang juga lebih tahan terhadap penyakit, dapat dipelihara di air minim, dan kualitas daging yang lebih baik.

Hanya saja kelemahannya, peternak tidak bisa membenihkan lele Sangkuriang dari induk lele Sangkuriang. Apabila ikan lele Sangkuriang dibenihkan lagi, kualitasnya akan turun. Jadi pembenihan lele Sangkuriang harus dilakukan dengan persilangan balik.
(Sumber: https://alamtani.com/ikan-lele/)




Sistem BIOFLOC untuk budidaya ikan Lele

Biofloc merupakan gabungan dari kata “bios” (kehidupan) dan “flock” (gumpalan) adalah kumpulan dari berbagai organisme seperti bakteri, mikroalga, protozoa, ragi dan sebagainya, yang tergabung dalam gumpalan. Sehingga, sistem biofloc menggunakan pakan khusus atau sering disebut sebagai pakan herbal yang tidak hanya sebagai pakan tambahan, tetapi juga dapat membantu menciptakan bentuk ekosistem dalam kolam untuk menjaga kualitas air.

Keuntungan menggunakan sistem biofloc antara lain:

1. Kualitas air kolam terjaga

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa sistem biofloc akan membuat ekosistem dalam kolam lebih baik. Sistem ini sangat cocok digunakan untuk budidaya ikan lele karena secara biologis ikan lele memiliki usus yang lebih pendek sehingga lele mencerna makanan lebih cepat membuat lele cepat lapar dan membuang kotoran lebih sering dan berdampak pada air kolam yang cepat keruh dan membahayakan ikan lele. Dengan sistem bioflok Anda tidak perlu lagi membuat air bersirkulasi terus-menerus. Bahkan sistem biofloc melarang penggantian air yang terlalu sering agar kotoran ikan lele dapat diubah menjadi makanan tambahan.

2. Hemat pakan

Kandungan yang ada pada pakan sistem biofloc dapat membantu mengubah kotoran lele menjadi relik-relik yang dapat dimanfaatkan ikan lele sebagai makanan tambahan. Dengan adanya relik-relik yang dihasilkan oleh sistem bioflok pada kolam lele dapat membantu peternak untuk mengurangi jumlah pakan dan tentunya berdampak pada berkurangnya biaya pakan ikan lele yang tergolong rakus. Jumlah penghematan pakan ikan lele yang dihasilkan sistem biofloc bisa mencapai 25% dari jumlah pakan tanpa sistem biofloc.

3. Padat tebar tinggi

Meski secara penelitian kolam dengan sistem bioflok dapat menjaga sejumlah 3000 ekor ikan lele per m3 (tanpa sistem biofloc hanya mampu 700 ekor/ m3), namun sebagian peternak menjaga agar jumlah tersebut dikurangi. Hal itu dimaksudkan agar jumlah populasi ikan lele terjaga karena ikan lele termasuk hewan karnivora yang juga sering bertindak sebagai kanibal ketika merasa lapar.

4. Meningkatkan jumlah produksi

Dengan terjaganya ekosistem dalam kolam, maka ikan lele yang dapat dihasilkan juga lebih banyak, lebih sehat dan cepat tumbuh besar. Hal ini sangat menguntungkan bagi peternak karena biaya pakan yang sering dikeluhkan peternak  juga jauh berkurang.




Cara memulai budidaya ikan lele dengan sistem biofloc.

A. Membuat kolam lele

Secara umum, kolam lele dapat dibuat dalam 3 jenis yaitu kolam permanen dari beton, kolam tanah, dan kolam terpal. Kolam tanah kini lebih jarang digunakan karena perawatannya yang lebih rumit serta potensi penyakit yang ditimbulkan lebih besar. Bagi Anda yang baru ingin mencoba budidaya ikan lele dapat menggunakan kolam terpal atau kolam dari drum plastik bekas karena lebih murah biaya pembuatannya. Sedangkan jika Anda ingin lebih serius dapat menggunakan kolam permanen yang lebih awet untuk mengurangi biaya perawatan kolam jangka panjang.

Untuk menciptakan sistem biofloc dalam kolam lele dapat Anda lakukan sebagai berikut:

  1. Usahakan agar kolam lele dibuat pada lokasi yang terkena sinar matahari langsung.
  2. Pasangkan aerator
  3. Isi kolam dengan ketinggian air antara 80-100 cm
  4. Pada hari kedua masukan Probiotik sebanyak 5 ml/m3
  5. Hari ketiga tambahkan Molase sebanyak 250 ml/m3 lalu tambahkan Dolomite sebanyak 150-200 g/m3 di malam hari.
  6. Pastikan semuanya telah tercampur, Aerator akan membantu percampuran bahan-bahan tersebut.
  7. Sebelum mulai menebarkan benih, diamkan kolam selama 7 – 10 hari, pada hari berikutnya benih baru bisa ditebar.

B. Memilih dan menyebarkan benih

Sebelumnya kita telah mengenal jenis-jenis ikan lele yang cukup populer untuk di budidayakan. Masing-masing jenis memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Pastikan benih yang Anda peroleh sesuai dengan tujuan dan kondisi kolam Anda. Usahakan agar benih yang didapat berasal dari peternak yang memang khusus mengembangbiakan benih lele, karena perbedaan indukan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan lele tersebut. 

Ikan lele yang sehat untuk budidaya pembesaran dapat dilihat dari gerakannya yang lincah, warna yang seragam dan tidak ada luka. Setelah benih ditebar, jangan lupa untuk menambahkan prebiotik sebanyak 5 ml/m3 di hari berikutnya.

C. Pemberian pakan dan perawatan

Pemberian pakan merupakan hal yang sangat penting, pilih pakan yang berkualitas dengan ukuran sebesar mulut ikan lele. Pakan dapat diberikan setiap pagi hari sebanyak 80% dari daya kenyang ikan dengan dicampur probiotik. Setiap seminggu sekali, puasakan ikan lele atau jangan diberi pakan. Ketika pada kolam telah terbentuk floc, Anda dapat mengurangi jumlah pakan.

Perlakuan perawatan ikan lele berukuran kurang dari 12 cm dengan lele berukuran lebih besar dari ukuran tersebut perlu dibedakan sebagai berikut:
1. Untuk ikan lele ukuran kurang dar 12 cm. Tambahkan probiotik (5 ml/m3) + ragi tempe (1 sdm/m3) + ragi tape (2 butir/m3). Pada malam harinya tambahkan Dolomite (200-300 g/m3). Lakukan setiap 10 hari sekali.
2. Untuk ikan lele ukuran lebih dari 12 cm. Tambahkan probiotik (5 ml/m3) + ragi tempe (3 sdm/m3) + ragi tape (6-8 butir/m3). Pada malam harinya tambahkan Dolomite (200-300 g/m3). Lakukan setiap 10 hari sekali.

*Catatan: Hindari pemberian pakan berupa organisme / daging (daging ayam, jeroan, dsb.) karena hal tersebut dapat memicu lele untuk memiliki insting kanibal.

D. Cara panen

Pada dasarnya tidak ada cara khusus dalam melakukan panen budidaya ikan lele. Hanya saja sering ditemukan dalam pertumbuhan ikan lele ada yang tumbuh lebih cepat atau cukup lambat dibanding kawnannya. Oleh sebab itu i-bisnis menyarankan agar dibuatkan kolam cadangan untuk menampung lele yang tumbuh lebih besar agar tidak memangsa lele-lele yang lebih kecil. Masa panen ikan lele cukup beragam tergantung pada perawatan, ukuran benih dan jenis ikan lele tersebut. Namun umumnya ikan lele dapat dipanen dalam waktu 3-4 bulan.

Tertarik untuk mencoba bisnis budidaya ikan lele dengan sistem biofloc ini?

Share:

Minggu, 01 April 2018

Cara Menilai Saham Dari Laporan Keuangan

analisa laporan keuangan untuk menilai kinerja perusahaan
Saham merupakan salah satu bentuk investasi yang berpotensi memberikan return tinggi sehingga cukup banyak menarik para investor untuk terjun dalam bursa saham. Meski begitu, berinvestasi saham juga memiliki resiko yang juga tinggi karena fluktuasi nilainya yang cukup drastis dan berubah-ubah dengan sangat cepat bahkan dalam hitungan detik (liquiditas saham). Sehingga banyak orang awam yang hanya ikut-ikutan terjun ke dunia saham pada akhirnya mengalami kerugian. Namun di lain sisi resiko berinvestasi saham dapat dikurangi dengan mengetahui fundamental saham sebelum Anda membeli saham. Salah satu indikator tersebut adalah dengan menilai rasio pada laporan keuangan perusahaan di masa lalu. Dengan memahami nilai rasio ini, Anda telah melewati salah satu resiko besar dalam berinvestasi saham. Untuk mendapatkan laporan keuangan perusahaan dapat Anda download dari website perusahaan, atau mendatangi langsung perusahaan tersebut.

Nilai rasio ini tidak hanya bermanfaat bagi investor, namun juga bagi manajemen perusahaan untuk mengetahui performa perusahaan dalam menentukan target di masa mendatang dan hal-hal apa yang perlu diperbaiki agar perusahaan tetap memperoleh keuntungan. Bagaimana cara mengetahui apakah kinerja perusahaan tersebut menguntungkan atau tidak?

Inilah 16 rasio penting dalam menilai saham dari laporan keuangan yang sering digunakan:

1. Current Ratio (Rasio Lancar) = Aktiva Lancar / Hutang Lancar.

Rasio keuangan ini menunjukan sejauh mana aktiva lancar dapat menutupi kewajiban lancar. Semakin besar hasil perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar, semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menutupi kewajiban jangka pendek.

2. Quick Ratio (Rasio Lancar Jangka Pendek) = (Aktiva Lancar – Persediaan) / Hutang Lancar. 

Mengukur apakah perusahaan memiliki aset lancar (tanpa harus menjual persediaan) untuk menutup kewajiban jangka pendeknya. Semakin tinggi quick ratio perusahaan, semakn baik kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancarnya.

3. Debt to Equity Ratio (Rasio Utang atas Modal) = Total Hutang / Ekuitas.

Rasio keuangan ini sering disebut dengan istilah Rasio Laverage, menggambarkan struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan, dengan demikian dapat dilihat struktur resiko tidak tertagihnya hutang. Semakin kecil angka rasio ini semakin baik.

4. Total Debt to Total Asset = Total Hutang / Total Aktiva. 

Menggambarkan aktiva yang dipergunakan oleh perusahaan untuk menutup hutang baik jangka pendek maupun jangka panjang. Semakin kecil nilainya semakin baik.

5. Operating Profit Margin = Laba Operasi / Penjualan.

Rasio keuangan ini mengukur seberapa besar sumbangan penjualan terhadap laba operasi. Rasio ini semakin besar semakin baik.

6. Net Profit Margin = Laba Bersih / Ekuitas.

Rasio keuangan ini mengukur seberapa besar sumbangan penjualan terhadap laba bersih perusahaan. Rasio ini semakin besar semakin baik.

7. Return on Equity (ROE) = Laba Bersih / Ekuitas.

Menggambarkan seberapa besar sumbangan keuntungan terhadap pemegang saham. Semakin besar semakin banyak keuntungan yang didapat.

8. Return on Asset (ROA) = Laba Bersih / Total Aset.

Mencerminkan seberapa besar laba yang bisa dicetak perusahaan dengan menggunakan seluruh asetnya. Semakin besar semakin baik.

9. Asset Turnover = Penjualan Bersih / Total Aktiva.

Menunjukan kemampuan manajemen mengelola seluruh investasi (aset) untuk menghasilkan penjualan. Semakin besar nilainya semakin baik.

10. Receivable Turnover = Penjualan Kredit / Piutang Dagang.

Menunjukan berapa kali piutang dagang perusahaan berputar dalam satu tahun. Semakin besar semakin banyak penjualan yang dihasilkan dibanding hutang yang dikelola.

11. Inventory Turnover = Harga Pokok Penjualan / Persediaan.

Menunjukan berapa kali persediaan barang dagangan perusahaan berputar dalam suatu periode tertentu. Semakin besar semakin baik.

12. Account Payable Turnover = Harga Pokok Penjualan / Hutang Dagang.

Menunjukan perputaran utang dagang dalam suatu periode tertentu. Kemampuan perusahaan dalam memenuhi hutangnya dapat digambarkan dalam rasio ini. Semakin besar semakin baik.

13. Earning Per Share (EPS) = Laba Bersih / Jumlah Saham.

Rasio keuangan ini menggambarkan jumlah laba yang dihasilkan perusahaan untuk tiap saham yang diterbitkan. Semakin besar nilainya, semakin besar nilai dividen yang dapat dibagikan.

14. Price Earning Ratio (PER) = Harga Saham / Eearning Per Share.

Menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. PER dihitung dalam satuan kali. Bagi investor, semakin kecil PER-nya semakin bagus karena berarti saham tersebut relatif murah.

15. Book Value (Nilai Buku Saham) = Total Ekuitas / Jumlah Saham.

Menggambarkan perbandingan total dana yang diterima dari pemegang saham terhadap jumlah saham. Hal ini untuk mentukan nilai saham saat itu.

16. Price to Book Value (PBV) = Harga Saham / Nilai Buku Saham.

Rasio keuangan ini menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Makin tinggi rasio ini, berarti pasar percaya akan prospek perusahaan.


Tidak semua nilai rasio tersebut dapat Anda temukan dalam setiap laporan keuangan yang dikeluarkan masing-masing perusahaan. Nilai-nilai rasio tersebut hanya salah satu alat untuk mengetahui performa perusahaan berdasarkan laporan keuangan. Selain dengan mengetahui rasio tersebut, Anda juga perlu memperhatikan bentuk fundamental lainnya dari perusahaan yang ingin Anda beli. Membeli saham tanpa mengetahui fundamental perusahaan sama dengan membeli kucing dalam karung. Jangan mudah terpancing dengan isu yang ada tanpa Anda memahami sendiri apa yang ingin Anda investasikan karena resiko berinvestasi saham akan Anda tanggung sendiri. Kenali 7 hal ini sebelum Anda memulai investasi.


Saya tidak bisa mengubah arah angin, namun saya bisa menyesuaikan 
pelayaran saya untuk selalu menggapai tujuan saya.” – Jimmy Dean

Share:

Senin, 02 Oktober 2017

Memanfaatkan Pekarangan Kosong Untuk Bisnis 5 Jenis Tanaman Ini

Ketika Anda mencari halaman ini, Anda pasti ingin tahu bagaimana menjalankan bisnis dengan memanfaatkan halaman pekarangan kosong di rumah Anda. Pada dasarnya, ada cukup banyak potensi yang bisa dihasilkan, namun jika Anda tidak ingin terlalu report, Anda bisa memanfaatkan pekarangan rumah Anda untuk menanam beberapa jenis tanaman yang mudah perawatannya dan bernilai jual tinggi. Selain itu, tanaman-tanaman ini pun bisa Anda manfaatkan sendiri untuk kebutuhan rumah pribadi dan keluarga. Langsung saja kita simak apa saja tanaman hasil pekarangan yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan bisnis berikut ini.

5 Jenis tanaman pekarangan yang bisa Anda jual sebagai lahan bisnis:

5. Tanaman Hias / Bunga

Tanaman hias dan bungan bisa menjadi lahan bisnis yang bagus, selain bisa mempercantik pekarangan rumah Anda sendiri harga tanaman hias bisa menjadi bernilai sangat tinggi pada waktu-waktu tertentu. Namun di lain sisi harga tanaman bunga bisa menjadi fluktuatif ketika ada pemain besar yang mendominasi pasar memainkan harga. Namun jika Anda bisa menikmatinya sebagai hobi, sepertinya harga bukan suatu masalah yang serius. Sedang untuk penjualannya pun menyasar pada kalangan khusus pecinta tanaman hias. Beberapa tanaman hias yang cukup bernilai tinggi antara lain: Kaktus, Bonsai, Anthurium, Aglaonema, Philodendron, Sansevieria, Puring, Kantung Semar, Anggrek, Adenum, dsb.

4. Buah-buahan

Berikutnya yang menjadi favorit adalah buah-buahan. Selain nikmat untuk dikonsumsi sendiri, jika hasil kebun Anda berlimpah bisa menjadi lahan bisnis yang baik. Buah-buahan memiliki target pasar yang tak terbatas karena hampir semua orang menyukai buah-buahan apapun. Oleh sebab itu buah-buahan memiliki potensi yang baik sebagai hasil pekarangan untuk berbisnis. Anda bisa menyesuaikan jenis tanaman dengan luas pekarangan Anda. Jika pekarangan Anda cukup kecil, Anda bisa menanam tanamanan buah dalam pot (tabulampot) seperti strawberry, nanas, jeruk nipis, dsb. Namun jika Anda memiliki pekarangan cukup luas, Anda bisa menanam tanaman teduh penghasil buah seperti mangga, Pisang, Nangka, dsb.

3. Bumbu Dapur

Bumbu dapur bisa menjadi sangat berharga karena menjadi salah satu kebutuhan hampir di setiap rumah tangga. Dengan menanam bumbu dapur ini juga bisa menghemat pengeluaran Anda dalam keperluan memasak atau bahkan jika Anda kehabisan bumbu di tukang sayur, Anda tidak perlu repot-repot pergi ke pasar untuk mencarinya. Beberapa bumbu dapur yang sering mengalami fluktuasi harga cukup tinggi biasanya adalah cabai, dan tomat. Selain itu Anda bisa menanam Jahe, Kunyit, Kunir, pohon salam, pandan, dsb.

2. Tanaman Obat

Urutan berikutnya adalah TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Obat herbal masih menjadi buruan masyarakat karena dipercaya lebih sehat dan minim efek samping dibandingkan dengan obat generik yang ada. Oleh sebab itu tanaman obat segar maupun olahan herbal siap pakai bisa menjadi sangat bernilai di masyarakat. Keunikan bentuk tanaman toga juga cukup menarik sebagai penghias rumah. Selain memiliki harga jual tinggi, secara tidak langsung Anda juga telah membantu menyelamatkan seseorang. Beberapa tanaman obat yang cukup banyak dicari orang antara lain: Rosela, Mengkudu, Bawang Dayak, Sambiloto, Sirih, dsb.

1. Hidroponik

Terakhir, tanaman yang bernilai tinggi adalah tanaman hidroponik. Tanaman hidroponik memiliki nilai tinggi karena dianggap lebih higienis dan lebih segar dibanding tanaman yang ditanam dengan media tanah. Hidroponik pilihan yang tepat bagi Anda yang hanya memiliki lahan terbatas dan biaya yang dibutuhkan pun tidak terlalu besar. Anda bisa membaca penjelasan lebih rinci mengenai persiapan, biaya dan keuntungan bisnis tanaman hidroponik pada artikel peluang bisnis hidroponik rumahan


Cara menjual hasil tanaman pekarangan

Anda kini telah memiliki gambaran mengenai jenis tanaman apa yang tepat untuk pekarangan Anda. Kini permasalahan berikutnya adalah bagaimana menjual hasil pekarangan tersebut pada konsumen. Berikut ini empat cara yang bisa Anda gunakan untuk menjual hasil dari tanaman pekarangan Anda:

1. Jual hasil dalam kemasan atau hasil olahan siap pakai

Cara ini sangat efektif jika hasil pekarangan Anda cukup melimpah sehingga Anda bisa menjualnya secara per kemasan dengan berat atau jumlah minimum yang Anda tentukan. Cara ini akan membantu Anda dalam proses penjualan yang lebih praktis dan mengurangi adanya sisa produk. Selain itu dengan pengemasan yang baik bisa meminimalisir pembusukan pada hasil panen yang mengakibatkan produk rusak dan tidak layak konsumsi.

2. Menjual produk segar pada masyarakat sekitar

Bisa jadi tanaman yang ada di pekarangan rumah Anda saat ini sedang dibutuhkan kerabat, tetangga, teman, atau orang lain. Anda bisa membicarakan tanaman / hasil panen yang ingin Anda jual saat berkumpul dengan masyarakat sehingga informasi tersebut bisa meluas dan siapa pun yang kebetulan membutuhkannya akan menghubungi Anda. Cara ini cukup baik jika Anda ingin menjual santai hasil pekarangan Anda.

3. Jual bibit dan tanaman siap panen pada event tertentu

Anda bisa memanfaatkan momen atau event yang ada di wilayah Anda untuk menjajakan hasil pekarangan Anda. Anda bisa menjualnya pada event free car day, atau saat perayaan hari kemerdekaan, atau saat-saat tertentu dimana banyak orang berkumpul ditempat itu. Manfaatkan event-event tersebut untuk memperoleh pembeli dan mendapatkan keuntungan lebih.

4. Menjual pada pedagang untuk dijual kembali

Ketika musim mangga, penulis sering mendapattawaran dari beberapa pedagang yang ingi memborong buah mangga dari pohon yang penulis tanam dipekarangan rumah. Karena hasilnya cukup melimpah dan sudah cukup dinikmati sendiri maka tawaran tersebut diterima dengan harga yang sesuai dan tentu saja hanya mangga-mangga yang sudah cukup masak saja yang diijinkan untuk diunduh. Keuntungan yang didapat cukup lumayan daripada buah-buahan tersebut membusuk di pohon. Jika kebetulan tidak ada pedagang yang menawar, Anda bisa menawarkannya sendiri pada pedagang disekitar wilayah Anda, atau Anda bisa tawarkan pada tukang sayur keliling tentu dengan pembagian keuntungan yang adil.

Untuk model pemasaran bisa dilakukan secara langsung dengan menawarkannya pada masyarakat maupun media online seperti grup Whatsapp dan Facebook. Kini Anda sudah memiliki gambaran bisnisnya dan siap untuk memulai. Jika bisa memanfaatkan pekarangan untuk keuntungan mengapa tidak?

Share: